Kabar penting: modem gw no longer working, usianya udah 2.5 tahun, jadi gue menggunakan smartphone (hotspot wifi portable) kalo mau berselancar di rumah. :((.
Akhir pekan kotaku diguyur hujan, tapi udara masih saja terasa panas. Libur panjang kali ini saya isi dengan berdiam di rumah saja, berbekal beberapa pekerjaan yang juga menunggu untuk diselesaikan. jadi ini kabar yang sangat tidak penting :p.
Beberapa minggu ini gue lagi mikir tentang melanjutkan pendidikan lagi di Indonesia (saja), tapi pas liat harganya, jadi mikir dua kali sih, bayaran satu semester di UI kelas weekend aja udah empat bulan gaji gue, nyiapin uang pangkal lumayan gede banget, belum lagi waktu yang mesti terbagi antara penelitian (tesis) dan kerjaan di kantor (meski soal ini bisa disiasati, maklum mantan mahasiswa deadliners :p).Oiya kata teman saya, soal biaya juga sebenernya ngga usah khawatir-khawatir amat, karena ada beasiswa-beasiswa yang ditawarkan di tengah-tengah pendidikan dengan syarat2 tertentu.
Beberapa hari yang lalu, ketemu ma bang adiwarman karim, beliau kebetulan satu tim penelitian dengan bos saya, dan saya sebagai asisten selalu ngebuntutin mereka :D, lalu akhirnya ngobrol-ngobrol tentang s2, dan gue dimarahin abis2an pas bilang cita-cita gue minimal ambil Islamic Finance di Malaysia. Beliau bilang, kalo punya cita-cita tuh yang tinggi, masa pengen kuliah ke Malaysia?? bwahahaha, malu abis gue digituin. Setau gue kan Islamic Finance yang udah berkembang di dunia ini ya Malaysia. Tapi beliau bilang, ilmu kamu tuh harus setara sama mereka-mereka yang kuliah di ivy league kalo pengen nantinya melawan mereka. Kalo soal ekonomi Islam, itu mah udah ada dalam darah daging kita, tinggal bagaimana kita punya bargaining position dengan bersaing bersama mereka di kampus-kampus mentereng di dunia. JREEENGG..
Ini jadi titik balik dalam pemikiran gue tentang mengambil pendidikan lanjut, tsaaaahh.. gue jadi bertekad untuk mencari jalan menuju ke kampus2 mentereng itu. Jalannya mungkin akan panjang, tapi gue, dan juga rekan-rekan yang lain yang sedang terus berusaha membumikan 'pemahaman ini' mungkin harus menapakinya.
Berjuang demi ekonomi Islam itu ya memang berat perjuangannya brader,, harus berusaha sekuat tenaga menduduki posisi-posisi strategis, kalo ngga begitu sulit sekali mengimplementasikannya di negeri kita ini, atau bahkan dimanapun. Pemerintah kita ngga pernah punya blueprint yang jelas, semuanya diserahkan kepada maunya pasar, bottom up, berat sodara-sodara, market sharenya masih dibawah 5% setelah berdarah-darah diusung sejak 1992. Padahal perbankan syariah itu baru satu titik kecil saja dari sistem ekonomi Islam, itu pun masih sangat market follower. Ahhh.. seakan gue sedang menatap stairway to heaven, panjaang, dan seperti tak ada ujungnya.
Minggu, Maret 31, 2013
Rabu, Maret 06, 2013
Kita lagi, untuk negeri, memangnya mau siapa lagi?
Venue : Sjafruddin Prawiranegara Tower, 20st Floor
Halo, lama tak jumpa
dengan saya, si cakep manis imut siapa yang punya, yang punya kita-kita..
Mihihi..
Today alias saat ini
gue seperti biasa lagi dikantor, tapi ngga kayak biasanya, bos nga ada, kerjaan
menyusut karena sementara ini tinggal penyusunan proposal penelitian aja buat submit hari Senin. Tapi
Pak Bos hari Senin juga cuti, Selasa hari raya Nyepi dan barulah pada hari Rabu
kita akan melanjutkan workshop tentang optimum portfolio , lalu pada kamis pagi
hingga Jumat akan ada workshop yang diisi oleh Pak Bos juga mengenai efisiensi. Minggu depan hidupku dikuasai workshop, woooyy..
Siang ini gue sendirian di kantor, tapi untungnya ada Ibu Bonny salah satu pegawai OJK yang masih ngantor disini, karena OJK tampaknya belum berkantor dengan tetap di satu bangunan. Lumayan ngga sepi-sepi amat di ruangan ini. Rekan kerja si unga dan si dinda juga tak tampak, karena mereka emang lagi ngurus responden di Bandung.
So here i'am, menulis lagi disini, membaca beberapa artikel yang lebih manusiawi secara bahasan maupun secara bahasa. Udah dua minggu ini gue mabok jurnal2 kece bikinan bule, yang entah maksudnya apa sebenernya gue ngga ngerti. Jaman kuliah gue lumayan suka baca Mises Institute, , salah satu media yang menampung pemikiran-pemikiran ekonomi aliran Austria. Namun gue baru tau, ternyata ada blog-blog keren yang istilahnya jelmaan mises institute versi Indonesia. Keras, dan lugas. Misalnya saja akal&kehendak, ini keren banget gue juga belum khatam ni bacanya, dan adalagi ekonomi orang waras , gue sampe yang ketagihan gitu bacanya.. Monggo ditamatkan yuk, baik kan gue bagi-bagi link bagus gratis, jarang2 bos :P.
Tau ngga, siang ini rasanya kepala gue pengen meledak, karena udah kepenuhan menampung mimpi dan tekad, jeileeehh bahasanyoo. Gue lagi dan selalu tertarik dengan hal-hal yang anti mainstream, ya.. seperti yang kita tahu, di negeri kita tercinta ini, terlalu banyak hal-hal mainstream yang udah sangat-sangat basi, kampungan, layangan, penuh drama dan uang. Sangat sedikit hal-hal baik yang menjadi tren, menjadi pegangan anak muda, menjadi prinsip yang tua dan sedang berkarya melayani bangsa, dan menjadi dasar-dasar sistem didik anak-anak negeri ini. Sangat sedikit, dan ini menyedihkan. Bangsa ini udah rapuh pada tingkat kerapuhan mendekati kematian, mungkin bukan bangsa ini saja, tapi juga bangsa-bangsa di belahan bumi yang lainnya.
Maka dari itu, kami selalu meminta pada Tuhan, jangan dulu hancurkan negeri ini, jika kami layak meminta, beri kami kesempatan untuk bahu membahu, membangkitkan, turut membenahi bagian-bagian yang sudah rapuh, menyemai lagi mimpi tentang langit biru yang cerah yang memayungi langkah ceria generasi kami yang sedang berkarya demi keutuhan hidup yang telah Tuhan hadiahkan kepada kami.
Ampuni Kami Ya Allah.
This world is not broken just bend, big hope ..
Oke baiklah mari kita lanjutkan kembali aktivitas masing-masing, niatkan semuanya untuk perubahan yang lebih baik ya..
Salam anti mainstream!!
Selasa, Februari 12, 2013
Surat Balasan
Ini surat balasan dari Mba Rizqa, istri mas Fahd Djibran.
Judulnya 'Komitmen'
Sejak awal, aku tahu hanya kamu yang bisa menghancurkan perasaanku. Tapi aku selalu seolah rela membiarkanmu melakukannya—berulang-ulang kali. Sementara aku selalu bersedia menjadi pelupa, memaafkan semua kesalahan-kesalahanmu, betapapun kau akan melakukannya lagi. Dan lagi.
Aku membuka semua pintu dan jendela rahasia dalam diriku agar kau bisa memasuki dan mengetahui semua tentang kehidupanku: Kekuatan dan kelemahan-kelemahanku, keberanian dan ketakutan-ketakutanku, kebahagiaan dan kesedihan-kesedihanku. Ya, hanya aku dan kamu yang tahu. Kita berdua. (Tuhan tak perlu dihitung. Dia selalu tahu segalanya, kan?) Maka dengan semua pengetahuanmu tentang diriku, kaulah satu-satunya orang yang tahu bagaimana caranya untuk benar-benar membahagiakanku—atau benar-benar menghancurkanku.
Bagiku, barangkali ini yang disebut cinta sejati. Aku membencimu setengah mati, tetapi sekaligus tak bisa membohongi diriku sendiri bahwa tak ada yang lebih kucintai selain kamu. Mencintaimu seolah-olah siklus sempurna ketika aku menampar seluruh bagian wajahmu, tetapi setelah itu aku akan mengobati dan membelainya dengan rasa bersalah sekaligus khawatir.
Mencintaimu adalah membuatmu merasa bersalah terhadapku tetapi akhirnya aku akan mengatakan: “Tidak apa-apa, aku yang salah, kok.” Mencintaimu adalah bertingkah apa saja yang bisa membuatmu mengkhawatirkanku, tetapi saat kau mendekatiku, membelai rambutku, dan bertanya “Kamu nggak kenapa-kenapa?” Maka aku akan menggelengkan kepala dan menjawab, “Nggak kenapa-kenapa. Aku baik-baik saja.” Lalu menyandarkan kepalaku di bahumu.
Begitulah, di saat-saat terburuk sekalipun, saat aku paling membencimu: Meski kadang-kadang aku ingin mengajakmu ke tempat paling tinggi agar aku bisa menjatuhkanmu dari sana, sebenarnya aku akan bergegas ke bawah untuk menangkap dan mendekapmu. Sebab jauh di kedalaman diriku, tak ada yang lebih membuatku takut selain mendapatimu terluka, atau bersedih, atau kecewa—apalagi jika aku yang melakukannya.
Jika ada yang salah dengan hubungan kita, seperti biasanya masing-masing kita akan bereaksi dengan cara bertahannya sendiri-sendiri. Aku egois. Kamu lebih egois. Aku akan marah padamu, dan kau lebih marah lagi. Tapi di akhir cerita, kita akan saling menyapa dengan malu-malu, meminta maaf atas kebodohan masing-masing kita, dan belajar lagi untuk saling mencintai dan lebih mengerti. Itulah cinta kita: Sederhana, apa adanya tapi tak ada yang bisa mengalahkannya.
Barangkali sebab kaulah satu-satunya orang yang paling membuatku takut kehilanganmu, aku mencintaimu sebesar kesedihanku jika suatu hari kau meninggalkanku—melukai perasaanku. Aku menerimamu sebab aku tak punya pilihan lainnya. Sejak kau mencuri hatiku, kau telah sekaligus mengunci langkahku untuk tak bisa pergi ke jebakan cinta siapa-siapa lagi.
Jika menikahimu akan membuat kita belajar berdansa di saat-saat sedih dan bahagia, aku akan tetap berdansa denganmu meski suatu hari kita telah kehilangan segala-galanya.
Maka datanglah. Aku akan menyambutmu sebesar semua kebahagiaan yang telah kau berikan padaku. Terima kasih telah, sedang, dan selalu membuatku menjadi perempuan paling bahagia di dunia—duniaku, duniamu, dunia kita.
~.~.~.~
Hmm.. surat ini sangat-sangat wanita, sangat emosional, romantis, and hmm.. menunjukkan janji, kematangan, dan kesiapan. Cool!
Judulnya 'Komitmen'
Sejak awal, aku tahu hanya kamu yang bisa menghancurkan perasaanku. Tapi aku selalu seolah rela membiarkanmu melakukannya—berulang-ulang kali. Sementara aku selalu bersedia menjadi pelupa, memaafkan semua kesalahan-kesalahanmu, betapapun kau akan melakukannya lagi. Dan lagi.
Aku membuka semua pintu dan jendela rahasia dalam diriku agar kau bisa memasuki dan mengetahui semua tentang kehidupanku: Kekuatan dan kelemahan-kelemahanku, keberanian dan ketakutan-ketakutanku, kebahagiaan dan kesedihan-kesedihanku. Ya, hanya aku dan kamu yang tahu. Kita berdua. (Tuhan tak perlu dihitung. Dia selalu tahu segalanya, kan?) Maka dengan semua pengetahuanmu tentang diriku, kaulah satu-satunya orang yang tahu bagaimana caranya untuk benar-benar membahagiakanku—atau benar-benar menghancurkanku.
Bagiku, barangkali ini yang disebut cinta sejati. Aku membencimu setengah mati, tetapi sekaligus tak bisa membohongi diriku sendiri bahwa tak ada yang lebih kucintai selain kamu. Mencintaimu seolah-olah siklus sempurna ketika aku menampar seluruh bagian wajahmu, tetapi setelah itu aku akan mengobati dan membelainya dengan rasa bersalah sekaligus khawatir.
Mencintaimu adalah membuatmu merasa bersalah terhadapku tetapi akhirnya aku akan mengatakan: “Tidak apa-apa, aku yang salah, kok.” Mencintaimu adalah bertingkah apa saja yang bisa membuatmu mengkhawatirkanku, tetapi saat kau mendekatiku, membelai rambutku, dan bertanya “Kamu nggak kenapa-kenapa?” Maka aku akan menggelengkan kepala dan menjawab, “Nggak kenapa-kenapa. Aku baik-baik saja.” Lalu menyandarkan kepalaku di bahumu.
Begitulah, di saat-saat terburuk sekalipun, saat aku paling membencimu: Meski kadang-kadang aku ingin mengajakmu ke tempat paling tinggi agar aku bisa menjatuhkanmu dari sana, sebenarnya aku akan bergegas ke bawah untuk menangkap dan mendekapmu. Sebab jauh di kedalaman diriku, tak ada yang lebih membuatku takut selain mendapatimu terluka, atau bersedih, atau kecewa—apalagi jika aku yang melakukannya.
Jika ada yang salah dengan hubungan kita, seperti biasanya masing-masing kita akan bereaksi dengan cara bertahannya sendiri-sendiri. Aku egois. Kamu lebih egois. Aku akan marah padamu, dan kau lebih marah lagi. Tapi di akhir cerita, kita akan saling menyapa dengan malu-malu, meminta maaf atas kebodohan masing-masing kita, dan belajar lagi untuk saling mencintai dan lebih mengerti. Itulah cinta kita: Sederhana, apa adanya tapi tak ada yang bisa mengalahkannya.
Barangkali sebab kaulah satu-satunya orang yang paling membuatku takut kehilanganmu, aku mencintaimu sebesar kesedihanku jika suatu hari kau meninggalkanku—melukai perasaanku. Aku menerimamu sebab aku tak punya pilihan lainnya. Sejak kau mencuri hatiku, kau telah sekaligus mengunci langkahku untuk tak bisa pergi ke jebakan cinta siapa-siapa lagi.
Jika menikahimu akan membuat kita belajar berdansa di saat-saat sedih dan bahagia, aku akan tetap berdansa denganmu meski suatu hari kita telah kehilangan segala-galanya.
Maka datanglah. Aku akan menyambutmu sebesar semua kebahagiaan yang telah kau berikan padaku. Terima kasih telah, sedang, dan selalu membuatku menjadi perempuan paling bahagia di dunia—duniaku, duniamu, dunia kita.
~.~.~.~
Hmm.. surat ini sangat-sangat wanita, sangat emosional, romantis, and hmm.. menunjukkan janji, kematangan, dan kesiapan. Cool!
The Proposal
Gue mau posting tulisan dari salah satu penulis favorit ah, namanya mas Fahd Djibran. Banyak sekali tulisannya yang sering gue baca. Salah satunya ini.
Ini tulisan yang dibuat ketika melamar calon istrinya
Judulnya 'The Proposal'
Untuk Rizqa, tiga tahun yang lalu
Jika kukatakan aku selalu mencintaimu, sesungguhnya aku berbohong: Kadang-kadang aku membencimu. Tetapi, apa bedanya? Benciku selalu membuatku semakin mencintaimu. Bagiku, mencintai atau membencimu hanya semacam cara agar kamu selalu ada dalam diriku. Dengan mencintaimu, kau selalu ada di hatiku. Dengan membencimu, kau selalu ada dalam pikiranku.
Cinta itu karunia, kita diberi meski tidak meminta. Tetapi “mencintai” adalah perkara lainnya, kan? Ia selalu membutuhkan usaha, kita yang mencari dan harus menemukannya sendiri. Maka bagiku, mencintaimu adalah berhenti mengandaikan semua hal baik yang tak ada pada dirimu sekaligus memaafkan semua hal buruk yang ada pada dirimu. Demikianlah caraku menemukan cinta pada dirimu: Barangkali ia memang sederhana, sesederhana senyummu saat membaca kalimat-kalimatku yang tengah kau baca; Semoga cukup bermakna.
Jika aku memang berjodoh denganmu, itu memang antara aku dan kamu. Biarlah Tuhan menjadi pihak ketiga saja, semacam pelengkap yang memberi restu. Bukankah harus begitu? Jodoh sebagai kata dasar, barangkali memang urusan Tuhan. Tetapi berilah imbuhan, apa saja, maka ia menjadi urusan manusia, urusan kita. Inilah janjiku: Setiap hari, aku akan berusaha membuat kita menjadi sepasang jodoh yang sempurna.
Apa boleh buat, aku mencintaimu sebab aku tak mengetahui cara lainnya. Aku akan datang ke rumahmu hari Rabu pukul sembilan. Bersiaplah. Berpakaianlah yang rapi—dengan wewangian apa saja. Barangkali aku akan membawa sepasang cincin, juga kedua orangtua dan keluargaku... Untuk melamarmu...
—Dari anak laki-laki yang disayang Tuhan, diturunkan ke bumi untuk menyayangimu.
mm.. merinding kan!!, di posting berikutnya akan gue pasang surat balasan dari mba Rizqa.
Ini tulisan yang dibuat ketika melamar calon istrinya
Judulnya 'The Proposal'
Untuk Rizqa, tiga tahun yang lalu
Jika kukatakan aku selalu mencintaimu, sesungguhnya aku berbohong: Kadang-kadang aku membencimu. Tetapi, apa bedanya? Benciku selalu membuatku semakin mencintaimu. Bagiku, mencintai atau membencimu hanya semacam cara agar kamu selalu ada dalam diriku. Dengan mencintaimu, kau selalu ada di hatiku. Dengan membencimu, kau selalu ada dalam pikiranku.
Cinta itu karunia, kita diberi meski tidak meminta. Tetapi “mencintai” adalah perkara lainnya, kan? Ia selalu membutuhkan usaha, kita yang mencari dan harus menemukannya sendiri. Maka bagiku, mencintaimu adalah berhenti mengandaikan semua hal baik yang tak ada pada dirimu sekaligus memaafkan semua hal buruk yang ada pada dirimu. Demikianlah caraku menemukan cinta pada dirimu: Barangkali ia memang sederhana, sesederhana senyummu saat membaca kalimat-kalimatku yang tengah kau baca; Semoga cukup bermakna.
Jika aku memang berjodoh denganmu, itu memang antara aku dan kamu. Biarlah Tuhan menjadi pihak ketiga saja, semacam pelengkap yang memberi restu. Bukankah harus begitu? Jodoh sebagai kata dasar, barangkali memang urusan Tuhan. Tetapi berilah imbuhan, apa saja, maka ia menjadi urusan manusia, urusan kita. Inilah janjiku: Setiap hari, aku akan berusaha membuat kita menjadi sepasang jodoh yang sempurna.
Apa boleh buat, aku mencintaimu sebab aku tak mengetahui cara lainnya. Aku akan datang ke rumahmu hari Rabu pukul sembilan. Bersiaplah. Berpakaianlah yang rapi—dengan wewangian apa saja. Barangkali aku akan membawa sepasang cincin, juga kedua orangtua dan keluargaku... Untuk melamarmu...
I can’t win, I can’t wait(ini lagunya David Guetta 'Without You')
I will never win this game without you, without you
I am lost, I am vain,
I will never be the same without you, without you
I won’t love, I won’t love
I will never make it past without you, without you
I can’t rest, I can’t lie
All I need is you and I, without you
—Dari anak laki-laki yang disayang Tuhan, diturunkan ke bumi untuk menyayangimu.
mm.. merinding kan!!, di posting berikutnya akan gue pasang surat balasan dari mba Rizqa.
Sabtu, Februari 09, 2013
Perjalanan
Setiap kali mengingat tentang perjalanan, rasanya ada yang berdesir dalam hati. Sepertinya gue ingin mewujudkan catatan perjalanan semacam itu. Kemungkinan terbesar mungkin belajar disana, atau bekerja, dan kemungkinan lain bisa juga ikut suami, atau mungkin bisa juga naik haji. Semuanya Amiin ko.
Perjalanan pasti memiliki arti yang setiap orang memiliki penafsirannya sendiri. Tapi tak akan pernah perjalanan itu mengkerdilkan kita. Setiap langkah nyata akan memiliki makna.
Gue jadi inget seorang teman yang tinggal di Jepang untuk kuliah disana. Sifatnya yang humble, friendly, dan selalu mengatakan ingin banyak belajar dari setiap orang yang ditemuinya sangat menginspirasi. Suatu pagi saya kehilangan dia, setelah menerima pesannya singkatnya di facebook. Gue mengira, ada kemungkinan gue diblock, meski tak tau atas alasan apa?. Lalu gue logout facebook dan mencari akun facebooknya di Google. Ternyata bukan diblock, namun dia memang sudah deaktivasi facebook di jam yang saya tak sempat membalas pesannya itu.
Namun alangkah kagetnya, gue malah menemukan hal baru di Google, Google banyak memberitakan perihal dirinya, dari berbagai situs baik dalam maupun luar negeri. Jadi ternyata selama ini gue berteman dengan penjahat, hehehe salaaah, jadi selama ini gue berteman dengan seorang ilmuwan muda Indonesia penerima penghargaan sains bergengsi di Kentucky US dan mendapat kesempatan mengambil Master di University of Tokyo. Kenapa gue baru menyadari hal itu ya, tapi lama kelamaan gue sadar satu hal, teman saya itu memang sangat humble, down to earth, tak pernah berbicara perihal dirinya sendiri, yang dia lakukan adalah bertanya, bercanda, menghargai, atau bahkan mengucapkan terimakasih. What a Man!
Gue ngga tau pasti kenapa dia deaktivasi facebooknya, mungkin sibuk, meski kelihatannya selama ini dia adalah orang yang lumayan aktif menulis status, berkomentar dan pernah mengupload gitar akustik karyanya sendiri. Tapi setau saya ada beberapa orang di facebook yang sengaja menutup account facebook beberapa saat karena ingin mengendalikan media itu sendiri dan bukan dirinya yang dikendalikan oleh media itu. Hahaha Whatever the reason, yang jelas dari peristiwa ini gue jadi belajar beberapa hal.
Yang pertama, tentang kisah pantang menyerah (ini gue dapet dari berita-berita itu) yang dimilikinya, sehingga menghasilkan magnum opus yang bisa nganterin dia ke pentas dunia. Yang kedua, sifatnya yang humble, tidak suka bercerita tentang dirinya sendiri, tidak memandang rendah orang-orang yang jauh dibawah dia, contohnya ke gue, hehe. dan yang paling penting menghargai keyakinan orang lain.
Pembelajaran yang gue peroleh dari subjeknya langsung, dan very thanks for it.
Oke balik lagi mengenai pembahasan mengenai hasrat perjalanan. I think, gue akan mengukir perjalanan gue sendiri. Kemanapun kaki melangkah, disanalah langit dijunjung, harus tetap down to earth dan selalu ingin belajar dimanapun, pada siapapun. Syukur2 kalo bisa mengajarkannya pada orang lain :)). Pada akhirnya mungkin bukan kata Good Bye yang akan tertulis, tapi 'Sampai Berjumpa Lagi'.
Semoga hidayah Allah selalu mengiringi perjalanan kita semua, dimanapun. Amin :)).
*all picture taken from google.com
Sabtu, Februari 02, 2013
Ekspresi aja
Tadi gue dihubungi oleh seseorang, mengabarkan kabar baik sekali. Setidaknya setahun ini gue bisa aman menyelamatkan gelar 'sarjana' gue. Tahun berikutnya siapa yang tau kan?,
Meski begitu, gue yakin selama setahun ini pasti banyak banget godaan. Tawaran-tawaran menggalaukan dari perusahaan-perusahaan yang udah gue spam emailnya dengan berbagai tipe application, mwahahaha.
Waktu jaman skripsi gue lumayan sering bolak balik ke perpustakaan yang berada di tempat kerja gue sekarang. Saat itu, gue lumayan kebelet pengen banget dapet kesempatan magang atau apapun yang bisa bikin gue menginjakkan kaki disana. Mungkin karena ngeliat tampilan buildingnya yang asik buat poto-poto dan dipamerin (nyengir), dan juga melihat beberapa hal disana yang gue rasa gue suka mengerjakannya. Suatu waktu gue kesana bareng Matuz , my roomate yang kata orang-orang kayak artis, eh hehe. Pas perjalanan pulang menuju shelter busway, gue sempet bilang sama dia kalo gue pengen banget-banget kerja apapun disana, jadi penjaga perpus pun ngga apa-apa, perpusnya asik sih bisa motokopi gretong :p. Terus kita ketawa bareng-bareng mulai meracau tentang masa depan bersama gelayut mimpi di benak masing-masing.
Saat itu, status gue sebagai pekerja juga di sebuah lembaga pendidikan perbankan syariah, sementara si Matuz sendiri saat itu bekerja di Unit Pengelola Zakat di salah satu bank BUMN Syariah. Anak-anak nakal yang males ngerjain skripsi dan cari kerja sana-sini :p.
Keajaiban itu bisa dibilang terjadi, bulan November 2012 kemaren gue bisa menginjakkan kaki gue di kantor itu dengan status digaji. Entah ada malaikat yang nyatet obrolan kita, entah memang sudah jalannya begini. Gue cuma bisa bersyukur aja.Yang bisa gue lakuin sekarang adalah bekerja sebaik-baiknya, berkarya, belajar lagi, terus upgrade diri.
Manusia itu bener-bener ngga pernah tau masa depan seperti apa yang akan dijalaninya, yang perlu dilakuin ya usaha aja. Yang perlu dicatat adalah, ngga semua usaha kita bisa menjadi seperti yang kita inginkan, kita bisa gagal, tapi ngga jarang juga ada yang bisa memperoleh lebih dari apa yang kita harapkan. Ya itulah, hidup.
Tapi dari pengalaman yang gue alami, for sure, lo ngga akan pernah menyesali hal positif yang pernah lo lakuin di masa lalu, apapun. Justru hal negatif yang dulu kita lakukan dengan terasa menyenangkanlah yang membuat penyesalan, dengan dalih apapun lo did it. Sorry sok tua :p
Meski begitu, gue yakin selama setahun ini pasti banyak banget godaan. Tawaran-tawaran menggalaukan dari perusahaan-perusahaan yang udah gue spam emailnya dengan berbagai tipe application, mwahahaha.
Waktu jaman skripsi gue lumayan sering bolak balik ke perpustakaan yang berada di tempat kerja gue sekarang. Saat itu, gue lumayan kebelet pengen banget dapet kesempatan magang atau apapun yang bisa bikin gue menginjakkan kaki disana. Mungkin karena ngeliat tampilan buildingnya yang asik buat poto-poto dan dipamerin (nyengir), dan juga melihat beberapa hal disana yang gue rasa gue suka mengerjakannya. Suatu waktu gue kesana bareng Matuz , my roomate yang kata orang-orang kayak artis, eh hehe. Pas perjalanan pulang menuju shelter busway, gue sempet bilang sama dia kalo gue pengen banget-banget kerja apapun disana, jadi penjaga perpus pun ngga apa-apa, perpusnya asik sih bisa motokopi gretong :p. Terus kita ketawa bareng-bareng mulai meracau tentang masa depan bersama gelayut mimpi di benak masing-masing.
Saat itu, status gue sebagai pekerja juga di sebuah lembaga pendidikan perbankan syariah, sementara si Matuz sendiri saat itu bekerja di Unit Pengelola Zakat di salah satu bank BUMN Syariah. Anak-anak nakal yang males ngerjain skripsi dan cari kerja sana-sini :p.
Keajaiban itu bisa dibilang terjadi, bulan November 2012 kemaren gue bisa menginjakkan kaki gue di kantor itu dengan status digaji. Entah ada malaikat yang nyatet obrolan kita, entah memang sudah jalannya begini. Gue cuma bisa bersyukur aja.Yang bisa gue lakuin sekarang adalah bekerja sebaik-baiknya, berkarya, belajar lagi, terus upgrade diri.
Manusia itu bener-bener ngga pernah tau masa depan seperti apa yang akan dijalaninya, yang perlu dilakuin ya usaha aja. Yang perlu dicatat adalah, ngga semua usaha kita bisa menjadi seperti yang kita inginkan, kita bisa gagal, tapi ngga jarang juga ada yang bisa memperoleh lebih dari apa yang kita harapkan. Ya itulah, hidup.
Tapi dari pengalaman yang gue alami, for sure, lo ngga akan pernah menyesali hal positif yang pernah lo lakuin di masa lalu, apapun. Justru hal negatif yang dulu kita lakukan dengan terasa menyenangkanlah yang membuat penyesalan, dengan dalih apapun lo did it. Sorry sok tua :p
Rabu, Januari 23, 2013
Beautiful Mind
Hai ..
Curhat Yuk, hahaha ...
Kenapa ya, belakangan ini banyak banget yang ingin aku sampaikan di blog ini, tapi mentoknya aku cuma save as draft aja,, semacam ada rasa; 'ini belum diedit' (karena emang ga pernah diedit :p), atau rasa 'kayaknya ini ngga terlalu penting deh'.. hihi
Tapi hari ini, aku ingin bercerita tentang sesuatu yang sedang bergumpal-gumpal dalam kepalaku.
Let me know, sebenernya gue ini tipe manusia semacam apa ya? periang kah? atau pemurung?, aku sering bertanya-tanya loh. karena dalam satu waktu pergantian mood-ku dari riang menjadi murung itu cepat sekali. makanya aku ngga percaya ada orang yang dalam hidupnya menderita, karena sebenernya banyak juga hal yang bisa menggembirakan di tengah kesedihan yang juga dalam, betul begitukah? at least, itu yang aku rasakan :D , dan memang benar kan bahagia itu sederhana, yang bisa terjadi kapan saja, bahkan ditengah keterpurukan, hmm ??
| this pict taken from wikipedia.com |
Beautiful Mind juga adalah sebuah film biografi seorang penerima nobel ekonomi John Nash, diperankan oleh Russel Crowe dengan sangat apik dan cemerlang.
Satu hal yang mengusik aku tadi malam adalah, tentang khayalan-khayalan atau halusinasi (bedanya apa ya?) yang menghantui kehidupan John Nash hampir sepanjang hidupnya, tepatnya semenjak Nash memasuki asrama kampus 'ivy league' tersebut.
Nash berfikir bahwa dia tinggal di sebuah kamar dengan seorang temannya, yang pada kenyataannya dia hanya sendirian selama bertahun-tahun tinggal di kamar tersebut. Halusinasi itu terus tumbuh, hingga ada orang lain lagi yang hidup dalam bayangannya itu.
Sebenarnya dikatakan bahwa itu adalah sebuah gangguan kejiwaan 'schizophrenia'. Tapi setelah melewati berbagai jalan hidup yang berliku karena schizophrenia, Nash yang jenius ini berhasil memperoleh nobel ekonomi dalam topic 'game theory'.
Poinnya adalah, penyakitnya tak pernah hilang sepanjang hidupnya, namun dia berjuang melawan bayangan-bayangan yang menghantuinya, yang awalnya dia menganggap itu nyata. Nash mencoba menerima kenyataan bahwa itu hanya hayalan, dan terus meneruskan hidup tanpa menghiraukan orang-orang yang hidup dalam bayangannya. karena Nash tau persis mereka tak ada.
Aku, kita, juga harus bisa mengabaikan berbagai bayangan-bayangan yang bisa nyata, bisa juga tidak nyata. sebagian dari kita mungkin pada awalnya akan merasa hidup ini dirongrong oleh hal-hal yang cukup mengganggu langkah kita, tapi bayangan-bayangan yang kita cintai tersebut bisa kita halau, bisa kita abaikan meski sesungguhnya tak cukup sanggup untuk melakukan itu. Kita menghalau bayangan itu, bukan untuk memperoleh nobel macam Nash, tapi untuk melanjutkan hidup.
you don't know what i mean :))
Minggu, Januari 06, 2013
Diam
Sungguh,
pada malam itu di bulan September, ada kalimat-kalimatnya yang menusuk hati, yang hingga saat ini selalu aku ingat.
kalimat-kalimat itu seolah berkata kepadaku, 'woy, apa urusanmu shemi?' , 'jangan ganggu deh kamu shemi'.
Sejak saat itu, aku berusaha membuat sebuah kuburan, aku bertekad untuk mengubur segala yang pernah aku bangun. aku tak ingin menjadi kerikil bagi mereka.
aku hanya akan diam saja, tak mau berkata apa-apa lagi, karena ucapanku sesungguhnya tak pernah amat berguna. ucapanku hanya angin lalu, atau bahkan polusi bagi mereka.
pada malam itu di bulan September, ada kalimat-kalimatnya yang menusuk hati, yang hingga saat ini selalu aku ingat.
kalimat-kalimat itu seolah berkata kepadaku, 'woy, apa urusanmu shemi?' , 'jangan ganggu deh kamu shemi'.
Sejak saat itu, aku berusaha membuat sebuah kuburan, aku bertekad untuk mengubur segala yang pernah aku bangun. aku tak ingin menjadi kerikil bagi mereka.
aku hanya akan diam saja, tak mau berkata apa-apa lagi, karena ucapanku sesungguhnya tak pernah amat berguna. ucapanku hanya angin lalu, atau bahkan polusi bagi mereka.
stress
Stress kenapa coba?
entah kenapa, gue suka stress kalau baca blog orang yang bagus, terarah, jelas tujuannya, dan menarik serta nyaman untuk dibaca.
gue stress karena memikirkan, kapan blog gue bisa sebagus itu?, kapan blog ini mengalami kemajuan secara mental, intelektual maupun spiritual (emangnya blog makhluk? wkwkw).
gue sering ko belajar menulis yang baik, bahkan membayangkan blog ini sampai pada tingkatan matang, dan layak dibaca oleh semua lapisan, tapi saat dituangkan, yah jadi melenceng dari plannya, bahasan seringnya jadi ngelantur. dan yang paling gue benci adalah ketika tulisan itu tidak menyampaikan pesan yang bulat. yappss.. itu bikin stress.. -___-.
dan, tulisan yang sedang saya tulis sekarang pun, kenapa keluar dari plannya ya,, maksud hati ingin menulis bahwa
ada blog-blog bagus diluar sana, yang bercerita secara sederhana, menggunakan bahasa yang mudah difahami, mencoba menyesuaikn dengan pembaca dari kalangan manapun, menyampaikan pesan dengan bulat, memiliki rangkaian kalimat yang renyah, dan membuat pembaca seperti larut dalam penjelasan-penjelasan maupun kisah yang tertuang di dalamnya.
Lalu, gue ingin mengatakan bahwa blog ini akan menuju ke arah sana, ingin lebih berbobot, menyampaikan sedikit bahasan dengan bahasa yang ringan dan tanpa jumawa. mudah difahami, dan meninggalkan kesan yang membekas bagi si pembaca. sehingga kedapatan ada orang yang ngobrol di suatu tempat,
'eh gue abis baca blog si 'anu', dia nulis tentang 'A' dari sudut pandang yang berbeda loh, dan gue setuju sama konsep dia', 'kapan-kapan coba deh lu baca'
wow, it's very nice kan.. bikin orang faham dan percaya dengan sudut pandang kita. atau bahkan terinspirasi.
Nah, kurang-lebih itu yang pengen gue tulis dari tadi, masih ada kekurangan sih sebenernya dari apa yang gue maksud di benak ini.. fiuuuhhh
Yang masih gue belum ngerti, bagaimana menulis sebaik itu, sepertinya harus terus diasah, dicoba dan dicoba lagi. dan yang pasti, riset itu penting untuk memperlihatkan kualitas dari sebuah tulisan. :D.
nb : need your comment so bad, readers !
entah kenapa, gue suka stress kalau baca blog orang yang bagus, terarah, jelas tujuannya, dan menarik serta nyaman untuk dibaca.
gue stress karena memikirkan, kapan blog gue bisa sebagus itu?, kapan blog ini mengalami kemajuan secara mental, intelektual maupun spiritual (emangnya blog makhluk? wkwkw).
gue sering ko belajar menulis yang baik, bahkan membayangkan blog ini sampai pada tingkatan matang, dan layak dibaca oleh semua lapisan, tapi saat dituangkan, yah jadi melenceng dari plannya, bahasan seringnya jadi ngelantur. dan yang paling gue benci adalah ketika tulisan itu tidak menyampaikan pesan yang bulat. yappss.. itu bikin stress.. -___-.
dan, tulisan yang sedang saya tulis sekarang pun, kenapa keluar dari plannya ya,, maksud hati ingin menulis bahwa
ada blog-blog bagus diluar sana, yang bercerita secara sederhana, menggunakan bahasa yang mudah difahami, mencoba menyesuaikn dengan pembaca dari kalangan manapun, menyampaikan pesan dengan bulat, memiliki rangkaian kalimat yang renyah, dan membuat pembaca seperti larut dalam penjelasan-penjelasan maupun kisah yang tertuang di dalamnya.
Lalu, gue ingin mengatakan bahwa blog ini akan menuju ke arah sana, ingin lebih berbobot, menyampaikan sedikit bahasan dengan bahasa yang ringan dan tanpa jumawa. mudah difahami, dan meninggalkan kesan yang membekas bagi si pembaca. sehingga kedapatan ada orang yang ngobrol di suatu tempat,
'eh gue abis baca blog si 'anu', dia nulis tentang 'A' dari sudut pandang yang berbeda loh, dan gue setuju sama konsep dia', 'kapan-kapan coba deh lu baca'
wow, it's very nice kan.. bikin orang faham dan percaya dengan sudut pandang kita. atau bahkan terinspirasi.
Nah, kurang-lebih itu yang pengen gue tulis dari tadi, masih ada kekurangan sih sebenernya dari apa yang gue maksud di benak ini.. fiuuuhhh
Yang masih gue belum ngerti, bagaimana menulis sebaik itu, sepertinya harus terus diasah, dicoba dan dicoba lagi. dan yang pasti, riset itu penting untuk memperlihatkan kualitas dari sebuah tulisan. :D.
nb : need your comment so bad, readers !
Langganan:
Postingan (Atom)