Minggu, Mei 12, 2013

Ehm

Hai,
Apa kabar?!
Aku yakin , kamu baik-baik saja. U're the most emotionally stable sih. 
Seneng deh kalo udah ngobrol sama kamu, kadang memunculkan wacana, perspektif, atau kemungkinan2 baru buat aku. Kadang juga membuatku merasa, 'saya sering deh mencari orang seperti kamu, lho ko sekarang ketemu ya dengan model orang begini'. Kata orang, kita jangan terlalu memperlihatkan kekaguman pada orang lain, ah yaa.. bagaimana jika ada campuran rasa lain selain kagum?. Ah sudahlah, toh pada akhirnya saya juga cuma nulis disini kan? :D. 
Baiklaah, saya wanita, masih tabu? , oh sudah tidak yaa.. hmmmm... 
Atau mungkin saya memang akan tidak siap dengan konsekuensinya,,. oh ini klasik yaa. 
Sepertinya, takut sih,,. ini semakin klasik saja. 
Hidup saya makin klasik saja nih, pada akhirnya. 
Saya kembalikan ke Tuhan aja deh,, Oh Tuhan, saya ......... ciptaanmu itu, bolehkah?, klasikkah?.  

Ah saya mellow sekali kali ini. :D



Selasa, April 30, 2013

Jalan ini

Jika bisa memilih,  mungkin aku akan terduduk manis di suatu pagi,  menyajikan teh hangat.  Menghirup udara pagi,  menyapa sahabat,  berolahraga ringan,  berkarya bersama senyum tulus orang-orang yang setia dan tercinta. 
Melangkah ringan,  bersama ayah dan bunda,  melukis pagiku,  hariku,  hingga sang surya tenggelam. 
Jika bisa memilih,  aku tak ingin memilih jalan ini. 

Published with Blogger-droid v2.0.6

Senin, April 22, 2013

Definisi gagal

Sedang merasa gagal dalam segala aspek kehidupan yang gw punya..  Sampai gw bingung, definisi gagal itu apa sih sebenarnya? 

Published with Blogger-droid v2.0.6

Sabtu, April 20, 2013

11 April 1989 - 11 April 2013

Baru saja ber ulang-tahun yang ke 24. aww saya udah berumur ya ternyata. Tahun ini menerima banyak doa yang amat tulus dari teman-teman, kerabat, keluarga, Terimakasih. :)).

Salam hangat :D

Minggu, Maret 31, 2013

Stairway to heaven

Kabar penting: modem gw no longer working, usianya udah 2.5 tahun, jadi gue menggunakan smartphone (hotspot wifi portable) kalo mau berselancar di rumah. :((.

Akhir pekan kotaku diguyur hujan, tapi udara masih saja terasa panas. Libur panjang kali ini saya isi dengan berdiam di rumah saja, berbekal beberapa pekerjaan yang juga menunggu untuk diselesaikan. jadi ini kabar yang sangat tidak penting :p.

Beberapa minggu ini gue lagi mikir tentang melanjutkan pendidikan lagi di Indonesia (saja), tapi pas liat harganya, jadi mikir dua kali sih, bayaran satu semester di UI kelas weekend aja udah empat bulan gaji gue, nyiapin uang pangkal lumayan gede banget, belum lagi waktu yang mesti terbagi antara penelitian (tesis) dan kerjaan di kantor (meski soal ini bisa disiasati, maklum mantan mahasiswa deadliners :p).Oiya kata teman saya, soal biaya juga sebenernya ngga usah khawatir-khawatir amat, karena ada beasiswa-beasiswa yang ditawarkan di tengah-tengah pendidikan dengan syarat2 tertentu.

Beberapa hari yang lalu, ketemu ma bang adiwarman karim, beliau kebetulan satu tim penelitian dengan bos saya, dan saya sebagai asisten selalu ngebuntutin mereka :D, lalu akhirnya ngobrol-ngobrol tentang s2, dan gue dimarahin abis2an pas bilang cita-cita gue minimal ambil Islamic Finance di Malaysia. Beliau bilang, kalo punya cita-cita tuh yang tinggi, masa pengen kuliah ke Malaysia?? bwahahaha, malu abis gue digituin. Setau gue kan Islamic Finance yang udah berkembang di dunia ini ya Malaysia. Tapi beliau bilang, ilmu kamu tuh harus setara sama mereka-mereka yang kuliah di ivy league kalo pengen nantinya melawan mereka. Kalo soal ekonomi Islam, itu mah udah ada dalam darah daging kita, tinggal bagaimana kita punya bargaining position dengan bersaing bersama mereka di kampus-kampus mentereng di dunia. JREEENGG..

Ini jadi titik balik dalam pemikiran gue tentang mengambil pendidikan lanjut, tsaaaahh.. gue jadi bertekad untuk mencari jalan menuju ke kampus2 mentereng itu. Jalannya mungkin akan panjang, tapi gue, dan juga rekan-rekan yang lain yang sedang terus berusaha membumikan 'pemahaman ini' mungkin harus menapakinya.
Berjuang demi ekonomi Islam itu ya memang berat perjuangannya brader,,  harus berusaha sekuat tenaga menduduki posisi-posisi strategis, kalo ngga begitu sulit sekali mengimplementasikannya di negeri kita ini, atau bahkan dimanapun. Pemerintah kita ngga pernah punya blueprint yang jelas,  semuanya diserahkan kepada maunya pasar, bottom up, berat sodara-sodara, market sharenya masih dibawah 5% setelah berdarah-darah diusung sejak 1992. Padahal perbankan syariah itu baru satu titik kecil saja dari sistem ekonomi Islam, itu pun masih sangat market follower. Ahhh.. seakan gue sedang menatap stairway to heaven, panjaang, dan seperti tak ada ujungnya.

Rabu, Maret 06, 2013

Kita lagi, untuk negeri, memangnya mau siapa lagi?

Venue : Sjafruddin Prawiranegara Tower,  20st Floor

Halo, lama tak jumpa dengan saya, si cakep manis imut siapa yang punya, yang punya kita-kita.. Mihihi..
Today alias saat ini gue seperti biasa lagi dikantor, tapi ngga kayak biasanya, bos nga ada, kerjaan menyusut karena sementara ini tinggal penyusunan proposal penelitian aja buat submit hari Senin. Tapi Pak Bos hari Senin juga cuti, Selasa hari raya Nyepi dan barulah pada hari Rabu kita akan melanjutkan workshop tentang optimum portfolio , lalu pada kamis pagi hingga Jumat akan ada workshop yang diisi oleh Pak Bos juga mengenai efisiensi. Minggu depan hidupku dikuasai workshop, woooyy..

Siang ini gue sendirian di kantor, tapi untungnya ada Ibu Bonny salah satu pegawai OJK yang masih ngantor disini, karena OJK tampaknya belum berkantor dengan tetap di satu bangunan. Lumayan ngga sepi-sepi amat di ruangan ini. Rekan kerja si unga dan si dinda juga tak tampak, karena mereka emang lagi ngurus responden di Bandung. 

So here i'am, menulis lagi disini, membaca beberapa artikel yang lebih manusiawi secara bahasan maupun secara bahasa. Udah dua minggu ini gue mabok jurnal2 kece bikinan bule, yang entah maksudnya apa sebenernya gue ngga ngerti. Jaman kuliah gue lumayan suka baca Mises Institute, , salah satu media yang menampung pemikiran-pemikiran ekonomi aliran Austria. Namun gue baru tau, ternyata ada blog-blog keren yang istilahnya jelmaan mises institute versi Indonesia. Keras, dan lugas. Misalnya saja akal&kehendak, ini keren banget gue juga belum khatam ni bacanya, dan adalagi ekonomi orang waras , gue sampe yang ketagihan gitu bacanya.. Monggo ditamatkan yuk, baik kan gue bagi-bagi link bagus gratis, jarang2 bos :P.

Tau ngga, siang ini rasanya kepala gue pengen meledak, karena udah kepenuhan menampung mimpi dan tekad, jeileeehh bahasanyoo. Gue lagi dan selalu tertarik dengan hal-hal yang anti mainstream, ya.. seperti yang kita tahu, di negeri kita tercinta ini, terlalu banyak hal-hal mainstream yang udah sangat-sangat basi, kampungan, layangan, penuh drama dan uang. Sangat sedikit hal-hal baik yang menjadi tren, menjadi pegangan anak muda, menjadi prinsip yang tua dan sedang berkarya melayani bangsa, dan menjadi dasar-dasar sistem didik anak-anak negeri ini. Sangat sedikit, dan ini menyedihkan. Bangsa ini udah rapuh pada tingkat kerapuhan mendekati kematian, mungkin bukan bangsa ini saja, tapi juga bangsa-bangsa di belahan bumi yang lainnya. 

Maka dari itu, kami selalu meminta pada Tuhan, jangan dulu hancurkan negeri ini, jika kami layak meminta, beri kami kesempatan untuk bahu membahu, membangkitkan, turut membenahi bagian-bagian yang sudah rapuh, menyemai lagi mimpi tentang langit biru yang cerah yang memayungi langkah ceria generasi kami yang sedang berkarya demi keutuhan hidup yang telah Tuhan hadiahkan kepada kami.

Ampuni Kami Ya Allah.
This world is not broken just bend, big hope ..

Oke baiklah mari kita lanjutkan kembali aktivitas masing-masing, niatkan semuanya untuk perubahan yang lebih baik ya.. 

Salam anti mainstream!!

Selasa, Februari 12, 2013

Surat Balasan

Ini surat balasan dari Mba Rizqa, istri mas Fahd Djibran.
Judulnya 'Komitmen'

Sejak awal, aku tahu hanya kamu yang bisa menghancurkan perasaanku. Tapi aku selalu seolah rela membiarkanmu melakukannya—berulang-ulang kali. Sementara aku selalu bersedia menjadi pelupa, memaafkan semua kesalahan-kesalahanmu, betapapun kau akan melakukannya lagi. Dan lagi.

Aku membuka semua pintu dan jendela rahasia dalam diriku agar kau bisa memasuki dan mengetahui semua tentang kehidupanku: Kekuatan dan kelemahan-kelemahanku, keberanian dan ketakutan-ketakutanku, kebahagiaan dan kesedihan-kesedihanku. Ya, hanya aku dan kamu yang tahu. Kita berdua. (Tuhan tak perlu dihitung. Dia selalu tahu segalanya, kan?) Maka dengan semua pengetahuanmu tentang diriku, kaulah satu-satunya orang yang tahu bagaimana caranya untuk benar-benar membahagiakanku—atau benar-benar menghancurkanku.

Bagiku, barangkali ini yang disebut cinta sejati. Aku membencimu setengah mati, tetapi sekaligus tak bisa membohongi diriku sendiri bahwa tak ada yang lebih kucintai selain kamu. Mencintaimu seolah-olah siklus sempurna ketika aku menampar seluruh bagian wajahmu, tetapi setelah itu aku akan mengobati dan membelainya dengan rasa bersalah sekaligus khawatir.

Mencintaimu adalah membuatmu merasa bersalah terhadapku tetapi akhirnya aku akan mengatakan: “Tidak apa-apa, aku yang salah, kok.” Mencintaimu adalah bertingkah apa saja yang bisa membuatmu mengkhawatirkanku, tetapi saat kau mendekatiku, membelai rambutku, dan bertanya “Kamu nggak kenapa-kenapa?” Maka aku akan menggelengkan kepala dan menjawab, “Nggak kenapa-kenapa. Aku baik-baik saja.” Lalu menyandarkan kepalaku di bahumu.

Begitulah, di saat-saat terburuk sekalipun, saat aku paling membencimu: Meski kadang-kadang aku ingin mengajakmu ke tempat paling tinggi agar aku bisa menjatuhkanmu dari sana, sebenarnya aku akan bergegas ke bawah untuk menangkap dan mendekapmu. Sebab jauh di kedalaman diriku, tak ada yang lebih membuatku takut selain mendapatimu terluka, atau bersedih, atau kecewa—apalagi jika aku yang melakukannya.

Jika ada yang salah dengan hubungan kita, seperti biasanya masing-masing kita akan bereaksi dengan cara bertahannya sendiri-sendiri. Aku egois. Kamu lebih egois. Aku akan marah padamu, dan kau lebih marah lagi. Tapi di akhir cerita, kita akan saling menyapa dengan malu-malu, meminta maaf atas kebodohan masing-masing kita, dan belajar lagi untuk saling mencintai dan lebih mengerti. Itulah cinta kita: Sederhana, apa adanya tapi tak ada yang bisa mengalahkannya.

Barangkali sebab kaulah satu-satunya orang yang paling membuatku takut kehilanganmu, aku mencintaimu sebesar kesedihanku jika suatu hari kau meninggalkanku—melukai perasaanku. Aku menerimamu sebab aku tak punya pilihan lainnya. Sejak kau mencuri hatiku, kau telah sekaligus mengunci langkahku untuk tak bisa pergi ke jebakan cinta siapa-siapa lagi.

Jika menikahimu akan membuat kita belajar berdansa di saat-saat sedih dan bahagia, aku akan tetap berdansa denganmu meski suatu hari kita telah kehilangan segala-galanya.

Maka datanglah. Aku akan menyambutmu sebesar semua kebahagiaan yang telah kau berikan padaku. Terima kasih telah, sedang, dan selalu membuatku menjadi perempuan paling bahagia di dunia—duniaku, duniamu, dunia kita.
                                                                              ~.~.~.~

Hmm.. surat ini sangat-sangat wanita, sangat emosional, romantis, and hmm.. menunjukkan janji, kematangan, dan kesiapan. Cool!
                                                       

The Proposal

Gue mau posting tulisan dari salah satu penulis favorit ah, namanya mas Fahd Djibran. Banyak sekali tulisannya yang sering gue baca. Salah satunya ini.
Ini tulisan yang dibuat ketika melamar calon istrinya

Judulnya 'The Proposal'

Untuk Rizqa, tiga tahun yang lalu

Jika kukatakan aku selalu mencintaimu, sesungguhnya aku berbohong: Kadang-kadang aku membencimu. Tetapi, apa bedanya? Benciku selalu membuatku semakin mencintaimu. Bagiku, mencintai atau membencimu hanya semacam cara agar kamu selalu ada dalam diriku. Dengan mencintaimu, kau selalu ada di hatiku. Dengan membencimu, kau selalu ada dalam pikiranku.

Cinta itu karunia, kita diberi meski tidak meminta. Tetapi “mencintai” adalah perkara lainnya, kan? Ia selalu membutuhkan usaha, kita yang mencari dan harus menemukannya sendiri. Maka bagiku, mencintaimu adalah berhenti mengandaikan semua hal baik yang tak ada pada dirimu sekaligus memaafkan semua hal buruk yang ada pada dirimu. Demikianlah caraku menemukan cinta pada dirimu: Barangkali ia memang sederhana, sesederhana senyummu saat membaca kalimat-kalimatku yang tengah kau baca; Semoga cukup bermakna.

Jika aku memang berjodoh denganmu, itu memang antara aku dan kamu. Biarlah Tuhan menjadi pihak ketiga saja, semacam pelengkap yang memberi restu. Bukankah harus begitu? Jodoh sebagai kata dasar, barangkali memang urusan Tuhan. Tetapi berilah imbuhan, apa saja, maka ia menjadi urusan manusia, urusan kita. Inilah janjiku: Setiap hari, aku akan berusaha membuat kita menjadi sepasang jodoh yang sempurna.

Apa boleh buat, aku mencintaimu sebab aku tak mengetahui cara lainnya. Aku akan datang ke rumahmu hari Rabu pukul sembilan. Bersiaplah. Berpakaianlah yang rapi—dengan wewangian apa saja. Barangkali aku akan membawa sepasang cincin, juga kedua orangtua dan keluargaku... Untuk melamarmu...

I can’t win, I can’t wait
I will never win this game without you, without you
I am lost, I am vain,
I will never be the same without you, without you

I won’t love, I won’t love
I will never make it past without you, without you
I can’t rest, I can’t lie
All I need is you and I, without you 
         (ini lagunya David Guetta 'Without You')

—Dari anak laki-laki yang disayang Tuhan, diturunkan ke bumi untuk menyayangimu. 

mm.. merinding kan!!, di posting berikutnya akan gue pasang surat balasan dari mba Rizqa.

Sabtu, Februari 09, 2013

Perjalanan



Kayaknya seru juga kalau nge-blog di suatu pagi, dengan judul 'Good Bye Jakarta', atau 'Good Bye Bogor atau Depok'. Artinya mungkin gue sedang melakukan sebuah perjalanan atau sedang berada diluar kota, atau diluar negeri. Bisa melintas pulau, atau ke negeri Jiran, Asia Timur, negeri Paman Sam, atau bahkan ke Eropa.

Setiap kali mengingat tentang perjalanan, rasanya ada yang berdesir dalam hati. Sepertinya gue ingin mewujudkan catatan perjalanan semacam itu. Kemungkinan terbesar mungkin belajar disana, atau bekerja, dan kemungkinan lain bisa juga ikut suami, atau mungkin bisa juga naik haji. Semuanya Amiin ko.

Perjalanan pasti memiliki arti yang setiap orang memiliki penafsirannya sendiri. Tapi tak akan pernah perjalanan itu mengkerdilkan kita. Setiap langkah nyata akan memiliki makna.



Gue jadi inget seorang teman yang tinggal di Jepang untuk kuliah disana. Sifatnya yang humble, friendly, dan selalu mengatakan ingin banyak belajar dari setiap orang yang ditemuinya sangat menginspirasi. Suatu pagi saya kehilangan dia, setelah menerima pesannya singkatnya di facebook. Gue mengira, ada kemungkinan gue diblock, meski tak tau atas alasan apa?. Lalu gue logout facebook dan mencari akun facebooknya di Google. Ternyata bukan diblock, namun dia memang sudah deaktivasi facebook di jam yang saya tak sempat membalas pesannya itu.

Namun alangkah kagetnya, gue malah menemukan hal baru di Google, Google banyak memberitakan perihal dirinya, dari berbagai situs baik dalam maupun luar negeri. Jadi ternyata selama ini gue berteman dengan penjahat, hehehe salaaah, jadi selama ini gue berteman dengan seorang ilmuwan muda Indonesia penerima penghargaan sains bergengsi di Kentucky US dan mendapat kesempatan mengambil Master di University of Tokyo. Kenapa gue baru menyadari hal itu ya, tapi lama kelamaan gue sadar satu hal, teman saya itu memang sangat humble, down to earth, tak pernah berbicara perihal dirinya sendiri, yang dia lakukan adalah bertanya, bercanda, menghargai, atau bahkan mengucapkan terimakasih. What a Man!

Gue ngga tau pasti kenapa dia deaktivasi facebooknya, mungkin sibuk, meski kelihatannya selama ini dia adalah orang yang lumayan aktif menulis status, berkomentar dan pernah mengupload gitar akustik karyanya sendiri. Tapi setau saya ada beberapa orang di facebook yang sengaja menutup account facebook beberapa saat karena ingin mengendalikan media itu sendiri dan bukan dirinya yang dikendalikan oleh media itu. Hahaha Whatever the reason, yang jelas dari peristiwa ini gue jadi belajar beberapa hal.

Yang pertama, tentang kisah pantang menyerah  (ini gue dapet dari berita-berita itu) yang dimilikinya, sehingga menghasilkan magnum opus yang bisa nganterin dia ke pentas dunia. Yang kedua, sifatnya yang humble, tidak suka bercerita tentang dirinya sendiri, tidak memandang rendah orang-orang yang jauh dibawah dia, contohnya ke gue, hehe. dan yang paling penting menghargai keyakinan orang lain.

Pembelajaran yang gue peroleh dari subjeknya langsung, dan very thanks for it.

Oke balik lagi mengenai pembahasan mengenai hasrat perjalanan. I think, gue akan mengukir perjalanan gue sendiri. Kemanapun kaki melangkah, disanalah langit dijunjung, harus tetap down to earth dan selalu ingin belajar dimanapun, pada siapapun. Syukur2 kalo bisa mengajarkannya pada orang lain :)). Pada akhirnya mungkin bukan kata Good Bye yang akan tertulis, tapi 'Sampai Berjumpa Lagi'.

Semoga hidayah Allah selalu mengiringi perjalanan kita semua, dimanapun. Amin :)).
*all picture taken from google.com