Tampilkan postingan dengan label check this out. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label check this out. Tampilkan semua postingan

Jumat, Desember 03, 2010

TGIF, thanks God it's Friday

Tidak terlalu berlebihan rasanya jika saya merasakan betapa bermaknanya hari ini. Bukan karena mendapat sebuah surprise nilai Uts, atau karena memperoleh sebuah senyuman seseorang yang berarti saat berpapasan di serambi kampus, dan bukan juga tentang kelakar-tawa lepas khas mahasiswa di kantin tadi siang. Bahkan bukan pula karena hari ini saya menghabiskan siang & sore tenggelam diantara lautan buku @Gramedia Botani Square sepulang dari kampus tadi.
Tapi perasaan ini lebih kepada sesuatu yang berada didalam hati saya, segalanya terasa renyah di hari ini. bisa dibayangkan saat mencicipi hidangan yang renyah, seluruh organ mulut rasanya menari dan bergerak teratur tanpa beban , yummy, rasanya itulah satu-satunya makanan terlezat dan akan saya makan terus setiap hari. Menikmati hari rasanya juga tak lengkap tanpa asupan suplemen ke dalam otak maupun fisik. Selalu ada hasrat untuk menikmati hidangan intelektual, baik berupa percakapan bermutu disela-sela leisure time, atau bacaan ringan yang menginspirasi dan bahkan humor-humor segar yang tidak basi dan cerdas. what a nice life rolling.
Maka tak boleh juga melupakan kebutuhan fisik, sehabis sakit kemarin yang menggagalkan beberapa planning travelling ke luar kota, *untuk tidak mengatakan trauma, saya mulai banyak berfikir ulang untuk mulai mengatur beberapa pola asupan makanan yang masuk ke dalam tubuh, ngeri juga ketika membaca potongan kalimat kolom sehat di Reader Digest magz edisi Desember ini
Tak ada makanan atau kebiasaan makan yang dapat menghindarkan anda dari risiko kanker payudara. Walau begitu, ada makanan yang dapat menjaga tubuh anda sesehat mungkin, meningkatkan daya tahan tubuh dan menjaga risiko anda terkena kanker payudara serendah mungkin
mm..cukup membuka pandangan bukan, dan saya akan memulainya bersama siapapun yang membaca kalimat ini.
ngomong-ngomong tentang hari, actually hingga beberapa hari kedepan, tepatnya hingga tanggal 10 Dec saya masih punya banyak agenda-agenda besar yang tak dapat dihindari, Laporan Pertanggung Jawaban yang jadi tugas terakhir saya di KSEI masih menyisakan beberapa kesemrawutan, terutama ketika saya harus berhadapan dengan ketua divisi yang setengah enggan menyelesaikan laporan lebih cepat yang tentunya akan sangat memudahkan saya melakukan editing dan preview beberapa laporan dengan Chief of KSEI. Waktu yang banyak diulur ini tentu akan menimbulkan stress tingkat tinggi di tanggal tepat deadline. Tapi satu-satunya cara menghadang tekanan yang kemungkinan besar will happen itu memang mengatasinya, dan mulai memaafkan diri bersama elemen disekitarnya.

teringat sebuah percakapan singkat di dunia maya,
teman: " rencananya 10 tahun kedepan gue udah bisa keliling dunia"
saya: " mau ngapain lo keliling dunia, Indonesia gag cukup indah?"
teman: " Indonesia is the most wonderfull .."
saya: " hmm.."
saya mulai berfikir ternyata tak perlu indah, karena keindahan sesungguhnya memang ada di dalam hati. pasti teman saya itu ngibul besar waktu bilang 'the most', karena bukan matanya yang mengatakan, tapi hatinya. dalam hatinya tercipta sebuah ruang terindah untuk ibu pertiwi, bukan ibu pertiwi yang memberikan keindahan itu. Hingga pada akhirnya saya sanggup mengatakan, trully,, tempat terindah setelah surga adalah hati yang bahagia dan menerima.

back to the topic tentang hari, mengapa kemudahan sebuah hari sangat dipengaruhi oleh kondisi hati, jika tidak salah menganalisa, saya akan menjawabnya bahwa itu hanya sebuah proses yang terus bergulir, bahwa hati memang harus terus belajar untuk itu pada kesempatan yang Tuhan beri dan lalu kita tentukan dan pilih sendiri.

Jumat, Oktober 01, 2010

at d' dawn time



Gw merasakan ada sebuah energi diluar diri gw,,energi yang tanpa batas, yang punya kuasa penuh atas diri gw. Dia mencukupi semua yang gw butuhkan materil 'n immateril,,Memiliki apa yang tak gw punya, mengalir di dalam darah , tanpa bisa gw bendung ,, terus dirasakan dalam setiap hembusan nafas gw..ada energi penuh kekuatan..yang bisa menenangkan dikala hati terasa galau..
Energi yang gw rasa tak harus gw ciptakan, ia telah ada sejak gw berada di dalam perut ibunda ,
Energi ini sepertinya harus gw jaga, tak ada pengkhianatan dan muslihat . Dan gw harus terus meng-upgrade..
Energi ini kadang membuat gw menangis..at the dawn time. .
Energi yang sungguh sulit untuk diingkari betapa manis dan ada hati penuh kesyukuran atas keberadaannya..
Terimakasih Tuhan, ,
Telah Memberikan energi bernama KEIMANAN..
Apa jadinya aku tanpanya..

Selasa, April 20, 2010

heart note



Bukan diantara lembah-lembah itu aku menyimpan rasa yang tak berujung ini..bukan diantara angin yang setiap kali berhembus dalam perjalanan menuju sebuah vertical limit , bukan pula diantara derasnya air sungai jernih , dingin yang melingkari langkah kami. Kadang ada seorang tua renta memberikan sepotong petuah, tentang cinta sejati,,lalu ia menghilang diantara kabut tebal bak asap, ujung rambut putih panjangnya masih sempat tertangkap oleh ekor mataku yang ketakutan disertai pula tubuh kecil yang mengigil ini. bukan tak mungkin akan selamanya aku terjebak tentang gundukan2 piramida hijau penuh misteri ini, auranya mengingatkan kanku pada apa yang terpendam dalam sanubari,,kisah tentang diri yang tangguh tapi fenomena alam selalu mengerogoti setiap kali Tuhan anugerahkan..

Kadang ada gelap yang pekat, meski waktu belum menuju ranah post meridiem..dan hati yang akan meloncat-loncat bersorak saat tak dinyana ada seberkas cahaya putih memantul pada daun jarum yang tajam..

Bukan diantara akar-akar gantung milik manusia hutan pula aku menyimpannya,, bukan pula pada tumbuhan2 hutan milik ular atau akar2 berbuah manis favorit penjelajah. Dan juga Bukan pada puncak keabadian edelweiss yang sebelah utaranya tertancap sang merah-putih milik manusia pendewa benda mati. Tapi semakin banyak 'bukan' yang aku tulis, hantu-hantu membisikkanku tentang keberadaan seberkas bayangan cinta pada setiap 'bukan'..dan analogi tentang meraih puncak2 perkasa ini selalu tepat untuk sesuatu yang agung di dalam telaga hati seorang aku..


Selasa, Februari 02, 2010

public blunder



Dalam sebuah perenungan...
manusia memang terkadang ragu-ragu untuk memandang kesalahannya, begitu banyak pembenaran yang terlontar, membuat semua orang disekelilingnya mengiyakan kesalahan tersebut,,yaya,,terkadang terlihat seperti bijak. tak menyadari ada implikasi besar dibalik semua keputusan, memang benar manusia sering salah membuat keputusan, tapi apakah harus terus berulang dan mengabaikan pesan Tuhan yang terwakili oleh orang2 yang mengingatkannya, God Helps those help them self,,apakah Tuhan akan menolong hambanya dengan tersurat, mengabarkan mana keputusan yang salah dan benar, picik kalo kamu berfikir kayak githu, terus kenapa masih harus mengulang hal-hal yang kamu tau itu salah, telah ada rambu yang membatasi tapi tak digubris.
implikasi besar dari sebuah kesalahan sering tidak terlihat, mungkin implikasi pada moral yang tercipta secara perlahan tapi pasti,
tapi ngga jarang banya kerugian yang ditimbulkan, untuk dirinya sendiri mungkin memang seharusnya begitu, tapi jika untuk orang lain yang tak tahu-menahu, lalu harus menjadi orang yang paling dirugikan?? " that's the public blunder".
terlalu berat beban bagi seorang korban (contohnya saya) atas social justfication yang mereka buat, membuat seolah keputusan paling bijaksana, mengabaikan amanah orang lain, dan yang paling jelas merugikan orang lain. menghambat kesuksesan, belum lagi long term effect yang bakal tercipta. Bicara soal kesuksesan memang dalam kasus ini ada parameter yang berlainan antar tiap individu dalam memandang kesuksesan,tapi jika semua orang menganggap kesuksesan bisa dihitung secara matematika, what will happen? there're unfortunate victims.....

Senin, Desember 21, 2009

taken from desy anwar page at kickandy. "God helps those who help themselves"

I am someone who is always open to learning new things and new ideas, so when a friend asked me to listen to a talk by Dada J.P Vaswani recently, I was more than eager. Who after all would not be interested to know the ‘Formula for Prosperity’, which was the title of the lecture, in these times of economic uncertainties? I had half expected to hear some tips on where best to put your money and which stocks to buy that would ensure a good return and provide you with a tidy little nest egg for the future - which just goes to show that I had no idea who J.P. Vaswani was or read any of his writings.

But when I saw that practically everyone from the Indian community in Jakarta included their children were there in their best clothes, I realized that the person we were about to listen to was a highly respected spiritual guru with many devotees worldwide: Particularly amongst the Indian community. (When I tweeted my status on Twitter, my niece, who is familiar with Jakarta’s textile shops, was impressed. She had seen Vaswani’s pictures hanging in many Indian owned textile stores.)

And when Dada finally entered the room, his hair as white as the robes he donned and had to be assisted to his seat on the stage, I figured out that the evening’s lecture wouldn’t be about some get rich quick schemes or advice on how to invest your money for the future. It was going to be about something a lot more profound.

So there I was amongst an audience thirsty for words of wisdom and eager to follow the path of enlightenment from a man who is well into his eighties, seemingly physically fragile and yet who managed to capture everyone’s attention with his simple humility, kind demeanour and gentle voice that only the truly wise and enlightened have. Here was a man who had devoted his life in the service of others through his inspiring words and stories.

What then is the formula for prosperity? I thought it might be of some interest for the readers so allow me to share in a nutshell Dada Vaswani’s gems of wisdom, for I was certainly grateful to learn and be reminded of them that evening. According to him there are four rules, which, if followed, will surely lead to a prosperous life.

The first of these rules is, ‘God helps those who help themselves.’ This might seem an obviously simple truism that need not be reiterated. However, coming from the mouth of a sage, I could not help but nod my head in agreement that this is something that we often disregard when going about our daily lives: Which is using the intelligence and capacity for endeavour that our Maker created us with. Instead, a lot of the times we expect others to solve our problems for us and, when things go wrong, to cast blame on everything other than ourselves.

Dada gave an example of a pious man whose house in the middle of his prayer, caught fire. Soon his family rushed to the prayer room to urge him to leave the house immediately before the fire spread, whereupon he declined, insisting that he was a man of faith and that God would see to it that he was saved.

The fire grew bigger and was about to engulf the house and his neighbours, anxious for his safety, risked their lives trying to save the man, who again, refused all help saying that God would answer his prayers for safekeeping. Finally the flames reached the prayer room where he was and this time firemen were sent with ladders to rescue him through the window but to no avail. The man was adamant that God would perform his miracle and save him from the flames.

No such miracle happened however, and the man was burnt to ashes in the fire. When he went to heaven he berated God for failing to rescue him but instead allowed him to die in the fire. To which God replied that thrice he had tried to rescue him, first via his family, secondly through his neighbours and finally even sending the firemen, and still the man did not get his messages. Thus the important universal lesson, don’t expect God to do your work for you, as God will only help those who help themselves. In order to do that, praying is not enough. Often in prayers we busy ourselves with our demands and entreaties and yet we rarely use our faculties and energy to listen to the answers or follow the messages. We fail to keep our eyes and ears open and employ our intelligence to read the signs that would point us in the right direction, to see the solutions to our problems and to decipher the secret of life and the key to prosperity.

The second rule to achieving prosperity is – oh, dear I’ve ran out of space. I guess it’s for me to know and for you to find out.

(Desi Anwar is an Anchor and Writer. She could be contacted at www.desianwar.com and www.dailyavocado.net)